KHUTBAH JUM'AT || BERBAGI TANPA PAMER, PEDULI TANPA SEKAT
MATERI KHUTBAH
JUM’AT
1447 H / 2026 M
BERBAGI
TANPA PAMER
PEDULI
TANPA SEKAT
Hermanto Abdul Ghofur
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ وَمَنَّ
عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ
الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا، وَأَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ
بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَى وَرَسُوْلُهُ
الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْوَرَى. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ
اِتَّقُوا اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتُمْ وَأَتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا
الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering sekali dihadapkan pada perbedaan,
entah perbedaan pendapat, ras, suku, agama, atau bahkan status sosial. Namun,
itu semua tidaklah berguna di hadapan Allah Ta’ala, sebab Allah hanya melihat
|
|
|
|
seseorang dari ketakwaannya, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا
خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ
لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ
عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Oleh karena itu, dalam kesempatan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat
kepada seluruh hadirin sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah
Ta’ala dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala
|
|
|
bentuk larangan-Nya. Mari kita sadari bahwa hanya ketakwaanlah bekal
terbaik untuk menghadap kepada Allah Ta’ala.
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah
Mengetahui bahwa perbedaan status sosial bukanlah penghalang bagi seseorang
untuk mendapat kemuliaan di sisi Allah Ta’ala, maka sudah sepatutnya bagi
seorang Muslim untuk fokus memperbaiki diri dari sifat-sifat negatif, terlebih
sifat yang dapat membuat jarak dalam status sosial, seperti gaya hidup hedonis,
flexing, toxic, dan haus validasi.
Hal ini penting sekali untuk dimengerti, sebab dalam praktiknya, sadar atau
tidak sadar, kita sering kali terbawa suasana bahagia hingga mengurangi
kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar.
Sebagaimana sering kita jumpai, orang-orang masih memamerkan hal-hal yang
bersifat
|
|
|
|
duniawi, seperti membeli barang-barang mewah, makan di restoran mewah,
liburan di tempat-tempat mewah, dan lain sebagainya.
Hal tersebut sangat tidak etis mengingat masih banyak saudara-saudara kita
di luar sana yang tidak mampu untuk itu semua. Jangankan untuk liburan di
tempat-tempat mewah dan membeli pakaian mewah, untuk membeli makanan
sehari-hari saja mereka kesulitan.
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah
Dalam Islam, saling berbagi makanan merupakan satu hal yang sangat
dianjurkan. Berbagi makanan bukan hanya tentang memberikan makanan kepada orang
lain, tetapi juga tentang membangun hubungan kasih sayang, persaudaraan, dan
kesetaraan.
Oleh karena itu, berbagi makanan memiliki kedudukan utama dalam agama
Islam. Sebagaimana Nabi Muhammad menjawab
|
|
|
pertanyaan salah satu sahabat yang diceritakan dalam riwayat Bukhari dan
Muslim:
وعن عبدِ اللَّهِ بنِ عَمْرو
بنِ العَاصِ رضي اللَّه عنهُما أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ
وسَلَّم: أَيُّ الإِسلامِ خَيْرٌ؟ قال: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلامَ
عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Artinya: “Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma, bahwasanya ada
seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
Manakah di dalam Islam itu amalan yang terbaik? Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: Engkau memberikan makanan serta mengucapkan salam kepada
orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.” (Hadits Muttafaq ‘alaih)
Maka, mayoritas ulama berpendapat bahwa mengadakan jamuan makanan adalah
bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW, Imam Abu
|
|
|
Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi asy-Syairazi dalam al-
Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), juz II,
hal. 476 menjelaskan:
وَيُسْتَحَبُّ مَا سِوَى
الْوَلِيمَةِ لِمَا فِيهَا مِنْ إِظْهَارٍ لِنِعْمَةِ اللَّهِ وَالشُّكْرِ
عَلَيْهَا وَاكْتِسَابِ الْأَجْرِ وَالْمَحَبَّةِ
Artinya, “Mengadakan jamuan makan hukumnya sunnah karena di dalamnya terdapat
pengungkapan terhadap nikmat-nikmat Allah, perwujudan rasa syukur, bentuk usaha
untuk mendapatkan pahala, dan peningkatan rasa kasih antarsesama.”
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah
Alhamdulillah, di negara kita, Indonesia, berbagi makanan merupakan tradisi
yang hampir ada di setiap lini kehidupan. Hal ini mencerminkan bahwa adat
istiadat kita meninggalkan budaya yang amat luhur bagi kehidupan sosial.
|
|
|
|
Namun, pada praktiknya masih sering kita jumpai perjamuan-perjamuan makanan
di situ terdapat akhlak-akhlak tidak terpuji, seperti memamerkan kekayaan,
prestasi, pendapatan, dan lain sebagainya.
Bahkan hal ini dapat memicu adanya kesenjangan sosial, seperti yang sering
terjadi, yaitu membedakan undangan orang kaya dan orang tidak mampu dalam suatu
perjamuan makanan, membeda-bedakan kasta, dan seterusnya.
Padahal Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ
الوَلِيمَةِ، يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ، وَمَنْ تَرَكَ
الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Sejelek-jeleknya makanan (tanpa berkah) ialah makanan walimah
yang hanya
|
|
|
mengundang orang-orang kaya, namun melewatkan orang-orang fakir. Barang
siapa meninggalkan (tidak menghadiri) undangan makan, maka sesungguhnya ia
telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah
Maka, dalam kesempatan yang mulia ini, kami mengajak hadirin sekalian untuk
lebih peka terhadap saudara kita yang kurang mampu. Jangan sampai secara
sengaja atau tidak sengaja kita menyakiti mereka dengan terlalu memperlihatkan
kebahagiaan yang sedang kita rasakan.
Demikian khutbah siang yang penuh berkah ini. Semoga bermanfaat bagi kita
semua dan mampu menjadi rambu-rambu kita untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar
kita. Amiin ya rabbal ‘alamin.
|
|
|
|
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ
مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي
إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ
اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى.
ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ
أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى
نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
|
|
|
|
اَللّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اَللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا
الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ
وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
0 Response to "KHUTBAH JUM'AT || BERBAGI TANPA PAMER, PEDULI TANPA SEKAT"
Post a Comment